What is Life?

Sejenak menjadi perenungan kurang lebih 1.5 bulan terakhir. Lahir, hidup, kemudian mati. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: untuk apa hidup? apa itu hidup?

Ketika lahir, kita terjun kepada suatu tempat yang penuh dengan ketidakpastian. Tempat yang penuh dengan dualitas. “Hidup adalah pilihan”, kutipan yang paling benar yang pernah ada ketika seseorang sudah berada di dunia. Karena dilahirkan bukan suatu pilihan. Pilihan selalu ada untuk setiap peristiwa. Selalu ada hal baik yang bisa dipetik pada setiap tragedi, dan selalu ada yang bisa disyukuri. Dan ketika bersyukur, setidaknya sakit akibat tragedi bisa terobati sedikit demi sedikit. Satu yang perlu diingat, pilihan itu ada setiap saat. Karena realitas ibarat sisi koin jika saya menganalogikan.

Dalam dunia yang serba sikut-sikutan, saya menarik diri untuk merefleksikan fenomena. Sejak lahir, kita merupakan pemenang dari sekian juta sperma yang berebut mencapai ovarium. Maju lagi ketika kita anak – anak. Di sekolah kita belajar untuk dapat nilai bagus, atau mengulik trik – trik game supaya bisa menang. Di kuliah pun sama. Berebut prestasi akademik, atau berebut kursi pejabat mahasiswa. Di dunia kerja atau usaha juga sama, berebut posisi di kantor atau giat berjualan supaya profit yang diperoleh lebih banyak dari toko sebelah. Dari pemaparan diatas, fenomenanya selalu sama: kompetisi.

Dulu saya pernah bertemu seseorang. Katanya hidup untuk memenuhi tujuan-Nya. DIA punya maksud kita diterjunkan dalam dunia. Kita, sebagai aktorNya, hanya butuh memaksimalkan diri agar kita bisa bermanfaat bagi sesama dan memuliakanNya. Namun alasan ini mungkin hanya berlaku untuk kaum religius. Bagaimana dengan yang atheis?

Lalu saya bertanya kepada orang tua, apakah mereka pernah menanyakan ini. Mereka jawab tidak pernah. Sedikitpun tidak. Saya pun bertanya kepada teman – teman, mereka pun tidak pernah. Mereka pun bilang, itu urusan Ilahi. Mempertanyakan sesuatu yang tidak pernah ada jawabannya dengan menganalisis menggunakan nalar manusia. Karena otak Tuhan bukan otak manusia.

Saya benar – benar ingin tahu. Lalu apakah saya harus bertemu Tuhan? Bisa saja, cara paling mudah itu hanya dengan mati. Tapi katanya kalau bunuh diri sama saja berdosa karena melanggar rencana Tuhan. Saya masih takut neraka masalahnya.

Hal ini masih merupakan pertanyaan. Mungkin yang akan saya terus pertanyakan sampai entah kapan. Pertanyaan ini mungkin tak berujung yang malah memicu debat kusir yang tidak akan memunculkan jawaban apapun ke permukaan. Namun satu yang pasti, saya harus tetap hidup, tetap menikmatinya dengan memilih kebahagiaan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s